Radio Streaming

 

Berita Populer

Sejumlah Satwa di Bonbin Kasang Kulim Riau Kurus

Post on 08 January 2018
by Redaksi

Green-Pekan terakhir Desember lalu, Green Radio mendapat kiriman foto beruang dari warga melalui sosial media. Foto tersebut diambil di Kebun Binatang Kasang Kulim, Kabupaten Kampar, Riau. Dalam foto itu, anak beruang terlihat kurus dan mengenaskan. Ia berdiri di balik jeruji, membuat kontak mata dengan pengunjung yang datang. Akan tetapi, kebanyakan pengunjung hanya memegang kameranya masing-masing.

Menindaklanjuti informasi itu, Rabu (27/12/2017), Green Radio langsung turun ke lokasi untuk melihat bagaimana keadaan beruang sehari setelah mendapat info tersebut.

Ada lima beruang madu di tiga kandang. Tiga ekor terdiri dari satu jantan dua betina dewasa ditempatkan di satu kandang ukuran sekitar 3x3 meter. Tingginya sekitar dua meter. Satu anak beruang ditempatkan di satu kandang yang bersebelahan dengan ukuran serupa. Sementara satu
individu dewasa lainnya ditempatkan terpisah.

Lantai semuanya semen. Terdapat kolam air. Tapi tidak ada bahan alam seperti kayu. Menurut Femke dari Jakarta Animal Aid Network (JAAN), kandang-kandang tersebut jauh dari standar. Bahan-bahan alami seperti kayu itu penting bagi kuku-kuku beruang.

“Ini kebutuhan hewan tidak diperhatikan, ini masalah besar. Kematian akan terjadi sia-sia untuk hewan-hewan yang harusnya dilindungi,” kata Femke khawatir.

Sementara itu kondisi yang menyedihkan terdapat pada kuda. Tiga kuda yang ada di dalam kandang terlihat sangat kurus. Tulang-tulang rusukanya terlihat jelas begitu juga tulang pinggulnya mencuat ke permukaan. Kuda tidak bergerak aktif. Hanya berjalan mengikuti pengunjung yang mendekat ke pagar besi pembatas.

Hal serupa juga terjadi pada rusa Timor. Sebagian badanya tidak lagi ditutupi bulu dan terlihat bekas luka. Saat Green di sana, rusa-rusa itu hanya terlihat berbaring. Bahkan yang lebih menyedihkan lagi kolam air di kandang buaya yang ukurannya lebih kecil dibandingkan dengan tubuh hewan tersebut.

Femke yang melihat detail foto-foto yang Green Radio kirim mengaku sedih.  (Jakarta Animal Aid Network) saat dihubungi Green Radio dan diperlihatkan Satwa tersebut kelihatan menderita. Memang, menurutnya saat ini kebun binatang di Indonesia sangat memprihatinkan. Belum ada standarisasi dan kontrol dalam pengawasan. “Otomotis keadaan satwa tidak jadi prioritas kesejahteraan,” katanya kepada Green Radio, Jumat 5 Desember 2017 malam.

Dikatakan Femke, kuda tersebut tidak sehat. Menurutnya jika kuda sehat tulang-tulangnya tidak akan terlihat. Matanya tidak akan sayu dan ini terlihat tidak bersemangat. “Di kebun binatang itu saya lihat kandang kuda berlumpur. Saya yakin kakinya berpenyakit karena selalu ada di tempat yang basah. Kuda harusnya dilakukan perawatan, kukunya harus selalu dikikir dan dibersihkan,” ungkapnya.

Hal serupa juga disampaikan Drh. Annisa Wandha Sari. Ia juga menyebutkan kuda tersebut kurus terlihat dari tulang rusuknya dan tulang panggulnya serta hidungnya yang kering menandakan kuda ini tidak dalam baik. Idealnya untuk hewan, tulang-tulang tersebut tidak akan terlihat. “Kondisinya tidak sejahtera dalam hal kesehatan. Kondisi kurus pada hewan memang bisa banyak faktor misalnya cacingan, atau kurang makanan,” ucapnya.

Tina, pemilik Kebun Binatang Kasang Kulim menampik bahwa kuda-kuda itu kurus lantaran kurang makanan. Badan yang tampak tulang rusuk dan panggul lantaran baru melahirkan. “Kudanya baru selesai melahirkan. Ada dua anaknya, hanya saja anak kedua mati karena tidak mau disusui sama induknya. Kalau melharikan biasanya begitu, nanti pulih lagi,” kata Tina dihubungi Green Radio, Sabtu (6/01/18).

Soal kandang yang berlumpur, menurut dia, kubangan itu memang seharusnya ada. Kuda menyukainya, sama seperti tapir, rusa kuda nil yang suka kubangan.

Terkait dengan orangutan, menurut Tina, satwa terancam punah itu berat badannya normal dan tidak obesitas “Lihat dulu jenis Sumatera apa Kalimantan. Ini Sumatera standarnya begitu,” jelas Tina.

Ia menegaskan bahwa tingkat kesejahteraan satwa-satwa di kebun binatangnya diawasi secara regular oleh dokter hewan. Dokter tersebut memeriksa kesehatan hewan dua kali dalam sebulan.