Radio Streaming

 

Berita Populer

Green Radio Undang Seniman Cukil ke Desa Batu Sanggan

Post on 04 December 2017
by Redaksi

Green-Desa Batu Sanggan berjarak empat jam dari Pekanbaru, Riau. Dengan menggunakan jalur darat, kendaraan hanya bisa berhenti di Desa Tanjung Belit atau Desa Gema, Kecamatan Kampar Kiri Hulu. Perjalanan dilanjutkan dengan perahu kayu bermesin selama satu jam ke Batu Sanggan.

Jika berkunjung ke desa ini, masyarakat akan menyambut para pengunjung dengan memakai sarung. Meski dalam keadaan mengenakan celana panjang sekalipun. Pemakaian sarung ini adalah sebagai budaya lokal untuk menghormati para tamu. Lina, masyarakat desa Batu Songgan mengatakan pakaian sarung dimaksud untuk menutup aurat seperti yang dilakukan para leluhur mereka.

“Kita dulu kalau pakai celana pasti dimarahi. Tapi anak sekarang kalau dibilangi gak mau dengar. Jadi untuk mempertahankan budaya ini, untuk tamu yang datang kami pakaikan sarung. Kalau laki-laki sampai di bawah lutut,” ujar Lina.

Dalam kunjungan kali ini, Green Radio membawa seniman cukil dari Jakarta. Kehadiran seniman ini dimaksud untuk membekali pemuda agar memiliki kemampuan yang nantinya dapat diaplikasikan untuk meningkatkan perekonomian desa. Mengingat saat ini jumlah pengunjung ke desa terus bertambah.

“Saat ini kami sudah punya pilihan aksesoris anyaman seperti cincin, gelang, tas, dan gantungan kunci sebagai cindera mata yang bisa dibawa pulang pengunjung,” kata Afliyon Susanto (27), pemuda Desa Batu Sanggan yang juga merupakan ketua pokja ekowisata Batu Bolah sekaligus anggota AMAN Provinsi Riau

Para pemuda di Batu Sanggan umumnya petani karet. Ia kemudian berinisiatif mengumpulkan pemuda-pemuda untuk bergabung dalam kelompok kerja (pokja) ekowisata Batu Sanggan. Kelompok ini menurut Afliyon telah berdiri sejak 2014. Ia sendiri diberi amanah sebagai ketua pertama hingga saat ini. Afliyon yang memang lahir di desa ini memiliki kecintaan luar biasa dengan alam.

“Pokja ekowisata awalnya diinisasi oleh Aliansi Masyarakat Adat Nusantara Provinsi Riau dan kita rangkul kawan-kawan yang ada di desa. Jumlah anggota yang sudah di-SK-kan di awal ada 18 orang. Sekarang nambah delapan orang lagi,” jelasnya.

Teguh Susanto, seniman cukil yang dihadirkan Green Radio ke Desa Batu Sanggan mengatakan, ia sangat senang dengan kesempatan berbagi ilmu tersebut. Keindahan Desa Batu Sanggan memunculkan banyak inspirasi dalam seni cukil yang ia bagi ke pemuda desa. Seni cukil (xylography) merupakan teknik cetak relief dalam seni grafis, di mana gambar dipahat pada permukaan papan kayu, dengan bagian yang akan dicetak tetap sejajar dengan permukaan sementara bagian yang tak dicetak dicukil atau dipahat dengan tatah/alat cukil.

“Seni cukil atau biasa dibilang seni cetak tinggi. Yang tinggi yang akan tercetak. Mudahnya seperti buat stempel. Sudah ada sejak sebelum era plat tembaga. Nah, di sini coba berbagi dengan pemuda, karena pemuda adalah agen perubahan. Pemuda ini harus didorong agar lebih kreatif. Supaya nantinya bisa menghidupkan perekonomian di desa mereka. Seni cukil juga bisa diaplikasikan ke media lain, gak harus baju,” paparnya.

Menurutnya, tidak mudah membuat sebuah kaos dengan seni sablon cukil, dibutuhkan kesabaran, ketelitian dan jiwa seni yang tinggi. Ada banyak tahapan yang harus dilalui, tahapan pertama adalah membuat cetakan. Cetakan dibuat dari papan MDF (Medium Density Fibreboard), sebuah papan kayu yang didesain untuk membuat cetakan. Pada papan tersebut digambar pola yang diinginkan. Untuk membuat sebuah pola diperlukan waktu sampai berhari – hari. Namun waktu yang dibutuhkan tergantung dengan kerumitan dan detail yang diinginkan. Semakin banyak detail yang ditampilkan, maka waktu yang dibutuhkan untuk membuat pola sablon cukil akan semakin lama.

Teguh sendiri memiliki puluhan koleksi pola sablon cukil. Teguh sempat membuka bengkel seni untuk sablon cukil sekaligus warung kopi yang ia beri nama kopi cukil. Banyak penikmat seni dan pemburu cendera mata yang mengunjungi Kopi Cukilnya, seperti komunitas gambar. Untuk setiap kaos dengan sablon cukil ini, pria penggemar pantai dan gunung ini biasanya menawarkan harga mulai dari Rp 50 ribu hingga Rp 2 juta.

Meneruskan keahlian membuat sablon cukil merupakan keinginan Teguh, terutama kepada para kawula muda. Dia terlihat begitu menikmati saat mendampingi pemuda Desa Batu Sanggan dalam mengembangkan kemampuannya dalam bidang cetak Sablon Cukil.

“Saya sendiri aktif dalam seni cukil ini baru tiga tahun ini. Berada di era modernisasi dan serba cepat ini memang memiliki tantangannya sendiri. Saya bertahan ya karena tekniknya menarik, ngajarin sabar. Tujuan lainnya lebih mudah untuk menggandakan karya kita. Karena bisa jadi masternya langsung,” tuturnya.

Sebagai pemuda Desa Batu Songgan, Afliyon mewakili pemuda desa begitu memanfaatkan kesempatan belajar seni cukil. Ia mengatakan kegiatan ini merupakan kegiatan positif yang tidak boleh disia-siakan.

“Kita memang butuh untuk (melengkapi) souvenir dari desa ini jika ada yang berkunjung. Seni cukil memang sulit. Kesulitan ditahap awal karena belum terbiasa dan belum terpikir objek yang mau digambar. Nanti kita akan diskusikan lagi dengan kawan-kawan bagaimana kelanjutannya,” ungkap Afliyon.