Radio Streaming

 

Berita Populer

Klaim Lahan, Masyarakat Bukit Kesuma-PT Arara Abadi Saling Lempar

Post on 28 November 2017
by Anggun

Green-Ratusan masyarakat Desa Bukit Kesuma, Kecamatan Pangkalan Kuras, Pelalawan terlibat bentrok dengan puluhan sekuriti perusahaan PT Arara Abadi, Grup Sinar Mas, 23 November lalu.

Bentrokan itu dipicu oleh penanaman akasia oleh perusahaan di lahan yang baru dipanen. Padahal masyarakat sendiri mengklaim bahwa masih terdapat saling klaim antarmasyarakat dengan perusahaan. Sehingga tidak seharusnya ditanam lagi sebelum ada penyelesaian.

“Setelah panen khan mereka mau nanam lagi itu di area yang

berkonflik itu. Maksud masyarakat itu khan jangan ditanami (akasia) dululah, cari dulu

penyelesaiannya sepertia apa,” kata Isnadi Esman, Sekretaris Jenderal Jaringan Masyarakat Gambut Riau (JMGR) kepada Green Radio, Senin (27/10/2017) kemarin.

Menurut Isnadi, saat itu masyarakat mendatangi pos penjagaan dan bermaksud untuk melihat lahan yang berkonflik. Namun kedatangan mereka justru dihadang oleh puluhan sekuriti.

“Mereka (perusahaan) mengerahkan sekuriti untuk menghadang masyarakat, digesekan antarmasyarakat dengan sekuriti itulah terjadi pemukulan dari sekuriti itu juga,” tambah Isnadi.

Kondisi yang memanas itu diprovokasi oleh helikopter perusahaan yang terbang rendah. Kerikil dan pasir beterbangan dan mengenai kerumunan masyarakat. “Kalau menurut masyarakat, heli itu menghalau mereka. Tapi kita juga kurang tahu juga, apa

sih maksud heli itu terbang rendah gitu,” katanya.

Sementara itu Nuru Huda, Jurubicara Grup Sinar Mas mengatakan masyarakatlah yang memulai memukul sekuritinya. “Sekuriti out sourching kita dipukul lalu dimasukin ke parit. Ditunjang, akibatnya sekuriti kita membalas. Bukan ujug-ujug masyarakat dipukul, tidak. Terjadi itu lempar-melemparlah,” terang Nurul kepada Green Radio kemarin.

Terkait dengan heli yang terbang rendah, Nurul menjelaskan bahwa saat itu ada patroli udara kebakaran hutan dan lahan serta aktifitas pembalakan liar. “Kebetulan dilihatnya di bawah itu (ada) penyerangan, kemudian diturunkannya lah ketinggian itu,” terang Nurul

Isnadi dari JMGR menyebut setidaknya tujuh orang masyarakat terluka cukup

parah akibat lemparan batu dan pemukulan oleh pihak keamanan perusahaan. Sementara itu terkait dengan legalitas lahan, Nurul menjelaskan bahwa kejadian itu merupakan kasus yang sudah lama. Sempat dilakukan mediasi oleh pemerintah kabupaten. “Kita tidak pernah bekerja di luar lahan konsesi yang sudah diberikan kepada kita,” ujarnya. (Anggun)