Radio Streaming

 

Berita Populer

Begini Drama Penyelamatan Tapir di Tesso Nilo

Post on 18 October 2017
by Redaksi

Green-Sekitar pukul tujuh hari Sabtu (15/10/2017) pagi, warga datang ke Kantor Seksi Air Hitam Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) Riau di Kecamatan Ukui, Pelalawan. Mereka memberitahu ada seekor Tonok sebutan lokal untuk Tapir yang terjerat

Muji (32) dan empat petugas Balai TNTN segera memacu kendaraan. Ternyata jaraknya hanya 5 menit mengendarai mobil mereka sudah tiba di lokasi. “Pas kita lihat, Tapirnya ya macam ini, gelisah,” katanya kepada Green Radio.

Keempat petugas itu pun kembali ke kantor untuk berkoordinasi penyelamatan seperti apa yang bisa dilakukan terhadap mamalia yang dilindungi ini. Dua jam berikutnya, petugas yang kali ini didampingi tim flying squad WWF dan reporter Green Radio berangkat ke lokasi. Setibanya, Tapir jantan dewasa itu semakin gelisah. Ia berusaha sekuat tenaga agar lepas dari jeratan. Kaki kanan depannya terlilit tali jerat. Ada bagian kuku yang hampir lepas.

Tapir (Tapirus indicus) terjerat tepat di pinggir jalan di dalam kawasan taman nasional. Jalanan itu sendiri juga merupakan jalan akses alternatif dari Desa Lubuk Kembang Bunga menuju Desa Air Hitam. Ada banyak orang yang melintas di jalanan itu terutama pagi dan sore. Sementara hutan di lokasi Tapir terjerat tidaknya begitu lebat. Pohon-pohon yang tinggi dan yang mendominasi hanyalah akasia yang tumbuh liar.

Tiga anggota flying squad terlihat menyiapkan tali tambang yang diikat menjadi laso. Rencananya, tali laso ini akan dikalungkan ke leher Tapir. Namun belum sempat mengalungkannya, si Tapir berlari menjauh. Kepalanya membentur kayu-kayu akasia berdiameter sekitar 5 sentimeter. Tapir mencari celah kabur. Ia segera melompat berlari menuju arah lain tapi lagi-lagi benturan yang didapat. Tapir melenguh kesakitan.

Setiap kali didekati, Tapir meronta kuat dan menjauh. Para petugas membersihkan kayu-kayu akasia untuk membuat ruang agar proses penyelamatan lebih mudah dan tidak menyakitkan bagi mamalia ini. Tapir lagi-lagi meronta dan kali ini berhasil melarikan diri.

“Kejar-kejar. Talinya masih ada di kakinya,” teriak Erwin Daulay, petugas Flying Squad. Erwin dan Tapir berlari kencang. Setelah berlari di jalan koridor sejauh 300 meter, Tapir belok kanan masuk ke dalam hutan. Talinya pun tersangkut. Dengan cepat Erwin menahan tali jebakan dan mengikatnya ke kayu akasia. “Mana tali,” teriak Erwin.

Proses penyelamatan pun kembali seperti semula. Saat didekati petugas, Tapir meronta. Kali ini rontaannya membuat belalainya tergores kayu dan sesekali ke kerikil di bahu jalan. Tapir kelelahan. Saat itulah petugas menyemprotkan obat luka ke arah kaki serta belalainya. Petugas dengan cepat memasukan tali tambang yang disimpul laso ke lehernya. Selama satu jam upaya penyelamatan, Tapir pun menyerah. Tali jebakan yang masih terikat di kaki depannya berhasil diputus. Tapir pun lalu berlari ke hutan.

“Alhamdulillah sudah selesai,” kata seorang petugas sembari tersenyum. (*)